﷯ ﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯﷯ ﷯﷯﷯﷯Easy Install Instructions:﷯﷯﷯1. Copy the Code﷯﷯2. Log in to your Blogger account
and go to "Manage Layout" from the Blogger Dashboard﷯﷯3. Click on the "Edit HTML" tab.﷯﷯4. Delete the code already in the "Edit Template" box and paste the new code in.﷯﷯5. Click "S BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS ?

Sabtu, 06 Februari 2010

Siapkah Kamu Menaklukkan 2010 ?

Tahun baru pun tiba. Selamat tinggal 2009 dan sambutlah 2010 hingga setahun ke depan. Dan marilah kita menjalani tahun baru di dekade yang baru ini dengan semangat baru untuk mencapai dunia baru yang lebih baik lagi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika menginjak tahun yang baru, banyak orang penasaran dengan apa-apa yang akan terjadi di situ. Dan jasa peramal pun menjadi jasa nomor satu yang dicari untuk mengetahuinya.
Dari berbagai media, seperti tarot, zodiak, shio, runes, dan lain sebagainya, para peramal mencoba menerawang apa yang akan terjadi di masa depan.

Namun tak hanya peramal saja yang piawai menerawang masa depan, para pengamat desain, musik, dan film pun tak bisa disepelekan kemampuannya untuk meramalkan media kreatif yang disukai pasar ke depannya.

Tak terlepas dari fenomena 2012 yang menyebutkan jika dunia akan segera berakhir, ramalan tahun 2010 pun didominasi adanya bencana, tragedi, ketidakpercayaan akan pemerintahan, dan hambatan yang membuat hati miris. Beberapa peramal pun memprediksi tahun Macan Logam ini sebagai tahun yang keras dan penuh persaingan.Namun bukan berarti kita tidak bisa menikmati hidup kita di tahun ini. Tetap optimis, positive thinking, dan tak pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan kita di 2010. Apalah arti hidup jika tak penuh dengan tantangan? Dan itulah yang membuat hidup di 2010 menjadi lebih hidup lagi.Dan tak ada salahnya juga jika kamu mencoba ramalan zodiak dan shio untuk menemukan pasangan jiwa kamu di tahun 2010 ini. Ataupun melihat-lihat tren fashion 2010 agar tidak dicap ketinggalan jaman.

Minggu, 24 Januari 2010

Kenali Jus yang Baik dan Buruk

SIAPA yang tidak suka segelas jus segar? Warna yang menarik, rasa manis dan klaim manfaat sehatnya tentunya sangat menggiurkan. Tapi, bukan berarti semua jus buah baik untuk kesehatan.
Sebagian jus, menurut pakar nutrisi, menawarkan sejumlah vitamin. Tapi, ada juga jus yang sama buruknya dengan gula-gula cair. Bagaimana menentukan pilihan yang tepat? Berikut urainnya untuk Anda.

Pilihan terburuk: Jus koktail

Berhati-hatilah dengan istilah jus koktail, minuman berasa jus, atau minuman jus. Sebagian besar produk ini hanya mengandung sedikit jus murni. Bahan utamanya biasanya air dan beberapa jenis gula, seperti sirup jagung yang kaya fruktosa. Dari segi nutrisi, minuman ini sama dengan minuman ringan lainnya, kaya gula dan kalori tapi rendah nutrisi. Penelitian mengungkap bahwa minuman buah bergula membuat anak-anak berisiko mengalami obesitas dan penyakit terkait obesitas.

Dilema 100 persen jus buah

Bagaimana dengan jus murni tanpa pemanis? Jus murni ini mengundang perdebatan panjang. Jus buah asli tentu saja kaya akan vitamin dan antioksidan. Masalahnya, jus buah murni juga kaya gula dan kalori. Satu cangkir jus apel murni mengandung gula setara dengan beberapa buah gula-gula. Karena itu, banyak pakar yang menganjurkan untuk mengonsumsi satu takar jus saja per hari.

Sejarah Kesenian & Kebudayaan


Sejarah Kebudayaan

Manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya karena perilakunya sebagian besar dikendalikan oleh budi atau akalnya. Kata berbudaya berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti akal. Dalam bahasa asing lainnya terdapat kata-kata seperti culture (Inggris), cultuur (Belanda) atau Kultur (Jerman). Berasal dari kata Latin coltere yang berarti pemeliharaan, pengolahan, dan penggarapan tanah menjadi tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata-kata itu juga diberi arti “pembentukan dan pemurnian”, misalnya pembentukan dan pemurnian jiwa.
Kebudayaan menurut E.B. Taylor, “Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan yang mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Menurut Koentjaraningrat, ”kebudayaan sebagai keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan, yang diperoleh melalui belajar dan tersusun dalam kehidupan masyarakat”.
Sejarah Kebudayaan memang sangat sedikit ditulis oleh seorang sejarwan. Sejarah kebudayaan sebagai bagian dari sudut pandang sejarah dalam melihat suatu peristiwa. Untuk tulisan sejarah budaya dalam kajian antropologi, filsafat dan jurnalisme telah banyak diterbitkan. Namun, kesemuanya merupakan patokan pengmatan kebudayaan pada masa kini atau berupa kajian kontemporer saja, bukan sebagi proses historis.
Namun, kajian sejarh tentang kebudayaan sudah diaktualisasikan berupa karya dari Darsiti Suratman, Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830-1939 atau Djoko Soekiman, Kebudayaan Indisch. Kedua buku tersebut merupakan kajian yang mendekati sejarah kebudayaan dalam tema, tetapi masih belum berupa sejarah kebudayaan dalam pendekatan.
Dalam memberikan gambaran Kuntowijoyo tidak memberikan keputusan dalm penulisna sejarah kebudayaan namun ia membrikan rujukan yang bisa dianut oleh sejarawan. Kuntowijoyo mencuplik dari buku milik Karl J. Weintraub, memuat tradisi historiografi kebudayaan dari sejarawan Eropa. Seperti Voltaire dengan ukuran untuk menyebut masyarakat, bangsa, dan rakyat beradab; burckhard, berusha dalam penemuan struktur dan tata dalam sejarah kebudayaan. Menurut Burckhard, kebudayaan ialah kenaytaan campuran sedangkan tugas sejarawan adalah mengkoordinasikan elemen-elemn dalam gambaran umum. Burckhard menggambarkan sejarah kebudayaan sebagai fragmen-fragmen yang disatukan seperti mozaik. Lamprecht, sejarah kebudayaan ialah sejarah sejarah dari seeleben (kolektifitas yang berupa apa saja, di mana ada jiwa zaman, dan di situ ada kebudayaan), kehidupan rohaniah suatu bangsa, melalui jiwa yang terbelenggu atau jiwa yang bebas. Heuizinga kebudayaan sebuah struktur, sebuah bentuk. Sejarah sebagai bentuk kejiwaan dengan apa sebuah kebudayaan menilai masa lampau. Sejarah kebudayaan menurut Heuzinga adalah usaha mencaru ”morfologi budaya”, studi tentang struktur.
Kemudian, pandangan Kuntowijoyolebih ditujukan kepada pandangan Burckhardt dan Huizinga, karena dianggap sebagi penulis klasih sejarah kebudayaan. Burckhardt telah mampu untuk memisahkan antara kajian antropologi dengan kajian sejarah. Perbedaan itu terletak pada pendekatan yang sinkronis, sistematis, tetapi tanpa kesalahan kronologis dalam peyajiannya. Kedua, usahanya memperluas bahan-bahan kajian sejarah kebudayaan dengan memberikan gambaran secara keseluruhan. Huizinga juga menambahkan bahwa pentingnya general thema dalam sejarah kebudayaan dan tugas sejarah kebudayaan adalah mencari pola-pola kehidupan, kesenian, dan pemikiran bersama-sama. Tugas itu adalah pemahaman secara morfologis dan deskriptif adari kebudayaan yang aktual, tidak dalam bentuk abstrak sehingga dalam penjelasan sejarah kebudayaan yang diungkapkan haruslah aktual dan konkret.
Gambaran umum dapat dicapai dengan menemukan central concept sebuah kebudayaan, meskipun ada kalanya sebuah kebudayaan memiliki banyak pusat (plural centre). Kalu orang akan menulis bagian-bagian dari kebudyaan, tanpa mengkaitkan sengn konsep sentral, hasilnya bukanlah sejarah kebudyaan, tetapi sejarah yang tertentu dan khusus. Sejarah kesenian, misalnya, yang ditulis tanpa mengingat tema umum budayanya, adalah sejarah kesenian, bukan sejarah kebudayaan.
Dalam penulisan sejarah kebudayaan perlu diperhatikan tentang kecenderungan penulisan sejarah agar tidak masuk dalam kajian antropologi dan tidak memakai scope yang lebih kecil karena bisa masuk pada bagian dari sejarah kebudyaan. Kajian sejaraj dengan kajian antropologi hampir sama dalam metodologi yang dipergunakan, namun berbeda dalam dalam melakukan kritik sumber. Sejarawan akan melakukan kritik sumber lebih detail daripada kritik yang digunakan oleh antropolog. Namun, sejarawan tidak boleh terjebak dengan tulisan antropologi yang bersifat historis seperti tulisan dari Pujo Semedi, Depletion of The Java Sea’s Fish Stock, 1860’s-1990’s. Tulisan itu seakan-akan menggambarkan kecenderungan bahwa tulisan tersebut masuk dalam ranah sejarah, namun perlu diperhatikan bahwa pengambilan tahun yang sangat panjang menajdi salah satu bentuk yang perlu ditandai.
Masuknya sejarah kebudayaan ke dalam sejarah yang bersifat khusus, seperti sejarah kesenian, atau sejarah yang masih mengandung sifat budaya merupakan turunan dari sejarah kebudayaan itu sendiri.